Untuk Apa Berpuasa?

5:58:00 PTG

Gambar Hiasan
Busur panah kita siapkan. Panahnya diasah rapi, supaya tajam. Dipastikan ianya lurus supaya dapat sampai tepat ke sasaran. Busurnya pula, dipersiapkan, talinya dipastikan regang sebaiknya dan mampu memacu panah dengan pantas. Namun, alatannya sudah persiapkan, apakah sasaran yang hendak dipanah? Ke arah manakah panah hendak laraskan?

Dalam hal remehpun, pastinya kita lakukan dengan punyai tujuan. Bahkan untuk masuk ke tandas juga punyai tujuan, iaitu membuang 'hajat'. Begitu jugalah ibadah puasa Ramadan ini yang sebulan kita kerjakan. Pasti ianya juga punyai tujuan.

Lalu, untuk apa kita berpuasa sebulan dibulan Ramadan ini? 

Adakah hanya sekadar, "..dah Allah suruh, aku buatlah."

Dalam Ramadan tahun lepas, saya ada menulis mengenai 'Madrasah Ramadan'. Kerana bulan Ramadan sering disebut sebagai bulan Ibadiyah. Penuh dengan amal ibadah yang dikerjakan siang dan malam. Di malam hari, muslimin muslimat akan memenuhi masjid untuk mengerjakan solat fardhu Isya' dan solat sunat Tarawikh. 

Namun, Dr Syeikh Yusuf al-Qardhawi ada menyinggung fenomena yang berlaku kini. Pada bulan Ramadan, kita akan menyaksikan tadarus Quran banyak diadakan, masjid penuh, orang beramal ibadah.. Apabila dibulan lain? Masjid lesu, kuliah-kuliah agama cuma dihadiri oleh kaum-kaum tua, al-Quran cuma menjadi perhiasan masjid. Kerana itulah, beliau menyebut:

"Barangsiapa yang 'menyembah' Ramadhan maka sesungguhnya Ramadhan itu akan mati, dan barangsiapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tidak mati. Seburuk-buruk kaum ialah mereka yang hanya mengenal Allah pada bulan Ramadhan! Jadilah hamba Tuhan, bukan hamba Ramadhan!"

Berbalik kepada persoalan asal, untuk apakah kita menunaikan ibadah puasa ini?

Jawapannya terdapat pada ayat suruhan mengerjakan Ibadah puasa ini sendiri, iaitu pada Surah al-Baqarah, ayat 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (QS. 2:183)

La'allakum tattaqun

Supaya kita menjadi orang yang bertaqwa.

Persoalan kemudiannya, apakah dimaksudkan taqwa?

Saya akan sambung dalam perbincangan seterusnya. Sebelum itu, saya kongsikan terlebih dahulu artikel ini:

Memahami Kembali Gramatika Ramadhan oleh Muhbib Abdul Wahab (Republika.co.id)

Ada yang sangat menarik dari setiap akhir ayat-ayat yang berkaitan dengan puasa Ramadhan. Ayat 183-187 surah Albaqarah diakhiri dengan fi'il Mudhari' (present dan future tense). Misalnya, ayat 183 yang diakhiri dengan la'allakum tattaqun, lalu in kuntum ta'lamun (184), la'allakum tasykurun (185), la'allahum yarsyudun (186), dan la'allahum yattaqun (187).

Menurut gramatika bahasa Arab, akhir ayat-ayat tersebut mengandung arti bahwa puasa itu harus berwawasan masa kini dan mendatang. Ketakwaan itu mengawali, menyertai, mengakhiri, sekaligus menindaklanjuti Ramadhan.

Kecuali ayat 184, ayat-ayat lainnya dirangkai dengan kata la'alla yang menunjukkan arti harapan (tarajji). Artinya, Ramadhan harus menjadi bulan penuh harapan menuju perubahan dan peningkatan ke arah yang lebih baik dan bermakna.

Pertama, harapan menjadi orang bertakwa (la'allakum tattaqun). Dalam menafsirkan ayat ini, sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa 'mudah-mudahan kalian semua dapat menjaga diri dari segala bentuk kemaksiatan.' Karena orang yang berpuasa itu mestinya antimaksiat. Makan dan minum saja tidak mau (di siang hari), apalagi maksiat?

Kedua, harapan menjadi orang yang berilmu (in kuntum ta'lamun). Ilmu harus menjadi dasar bagi kita dalam menggali makna dan rahasia puasa. Sebaliknya, puasa hendaknya mengantarkan kita untuk selalu menggali dan mengembangkan ilmu. Ilmu dan takwa menjadi 'identitas' Muslim.

Ketiga, harapan menjadi orang yang pandai bersyukur (la'allakum tasykurun). Bersyukur merupakan nilai positif dan konstruktif bagi orang yang berpuasa, karena ketika merasa letih, lapar, haus, dan dahaga, lalu pada saat berbuka dapat menikmati apa yang menjadi hak mulut dan perutnya, rasa gembira itu terekspresikan luar biasa indah. "Bagi orang yang berpuasa itu ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat bertemu Tuhannya di akhirat kelak." (HR Thabrani).

Keempat, harapan menjadi orang yang berada dalam kebenaran (la'allahum yarsyudun). Berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah merupakan prasyarat yang mengantarkan seseorang itu memperoleh jalan kebenaran dalam menjalani kehidupan ini.

Harapan itu harus dipenuhi dengan ketaatan dan kesungguhan dalam berdoa, dengan sungguh-sungguh meminta kepada Allah dan bukan pada yang lain.

Kelima, harapan menjadi orang yang bertakwa (la'allahum yattaqun). Menjadi orang yang bertakwa harus tahu diri, tahu batas, dan tahu yang pantas. Tahu diri artinya bisa mengendalikan hawa nafsu, tahu batas berarti mengetahui larangan-larangan Allah, dan tahu yang pantas artinya berusaha untuk menampilkan performa diri yang terbaik sesuai dengan batas kemampuannya.

Dengan memahami gramatika Ramadhan ini, kita perlu memaksimalkan harapan-harapan baik kita dengan membuat perencanaan dan target yang jelas sehingga Ramadhan kali ini, membuahkan transformasi dan spiritualisasi diri ke arah peningkatan iman dan takwa yang bermakna. Semoga.

You Might Also Like

0 maklum balas

Lama sangat tulis dalam kemaskini. Ape daa..

Fiqh Dakwah

1. Al-qudwah qabla dakwah
2. Ar-Ta’lif qabla ta’rif
3. At-ta’rif qabla taklif
4. At-tadarruj fi taklif
5. At-taisir la ta’sir
6. Al-Usul qabla furu’
7. At-targhib qabla tarhib
8. At-tafhim la al-talqin
9. At-tarbiyah la at-ta’riyah
10. Tilmizu imam la tilmiz kitab

Abdullah Nasih ‘Ulwan

“Usaha dan Jihad pemuda-pemuda merupakan suatu tenaga yang paling berpotensi bagi mengatasi dan memecah sebarang masalah. Usaha ke arah Keagungan dan Kegemilangan akan terkabul di tangan-tangan pemuda-pemuda Islam, bukan di kalangan orang yang tidak bermaya lagi tidak berpotensi. Sebagaimana kita semua ketahui, bahawa angkatan pemuda adalah merupakan suatu tenaga yang utuh, teguh andainya mereka ini diasuh dan ditarbiyah dengan tarbiyah Islamiah, hingga jiwa-jiwa mereka ini penuh padu keimanan dengan Allah s.w.t. Berteraskan dengan keimanan yang tulin sahajalah kedudukan ummah ini dapat ditingkatkan sampai menjadi suatu ummah yang aman makmur.”